Oleh: mdponline | Mei 18, 2011

Tujuan Pengajaran Sastra yang Apresiatif di SLTP

Oleh Drs. Syamsul Alam

(Guru SLTP Negeri 30 Makassar)

PENGAJARAN sastra di SLTP berdasarkan Kurikulum 1975, Kurikulum 1986, dan Kurikulum 1994 belum memenuhi harapan terhadap peningkatan apresiasi siswa pada karya sastra. Demikianjuga dengan Kurikulum 1994 Suplemen GBPP 1999 harapan akan terwujudnya pengajaran apresiasi sastra

yang apresiatif belum menunjukkan hasil yang maksimal. Kini harapan itu tertuju pada Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi yang rencananya mulai disosialisasikan pada Tahun Pelajaran

2002/2003 ini. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi tersebut dinyatakan secara jelas indikator yang akan dicapai pada setiap pembelajaran bahasa Indonesia, termasuk di dalamnya pembelajaran sastra. Dengan demikian, diharapkan tujuan pengajaran sastra dapat terwujud.

Pada dasarnya, pengajaran merupakan proses penanaman, pemeliharaan, pembinaan, dan penumbuhan lia] yang diajarkan ke arah perkembangan. Demikian juga dengan pengajaran sastra. Melalui pengajaran sastra diharapkan dapat meningkatkan daya apresiasi siswa terhadap sastra. Harapan ini hanya akan terwujud apabila dilakukan usaha perbaikan secara terus-menerus ke arah peningkatan mutu pengajaran sastra. hanya menuntut siswa memiliki pengetahuan dasar dalam mengapresiasi sastra, tetapi juga menuntut siswa memiliki keterampilan dan kegemaran siswa mengapresiasi karya sastra. Dalam pelaksanaannya di sekolah, pengajaran sastra sering diarahkan pada pengetahuan saja. Pemberian tugas mengapresiasi karya sastra dapat dikatakan langka. Padahal kegiatan mengapresiasi karya sastra dapat mewujudkan keterampilan dan kegemaran siswa terhadap karya sastra.

Langkanya kegiatan pelatihan mengapresiasi karya sastra disebabkan oleh beberapa hal. Tiga di antaranya yang dapat disebutkan. Pertama, guru sastra enggan atau tidak berkesempatan mencari karya sastra sebagai bahan pelatihan mengapresiasi karya sastra. Kedua, penyediaan atau pencaharian karya sastra yang sesuai dengan tema pembelajaran dirasakan sulit oleh guru sastra. Ketiga, siswa sendiri yang tidak tertarik mempelajari karya sastra karena mempunyai pendapat yang negatif terhadap karya sastra.

Sebagai upaya untuk mengatasi hal tersebut, maka dalam tulisan ini dikemukakan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengajaran sastra di SLTP dan sekaligus cara oemecahannya. Hal ini dimaksudkan agar tujuan pengajaran sastra, yakni siswa dapat mengapresiasi karya sastra dapat terwujud.

 

Memilih Bahan Pengajaran Sastra

Untuk mewujudkan pengajaran sastra yang apresiatif, masalah bahan pengajaran harus mendapat perhatian yang serius. Tidak semua karya sastra dapat dijadikan hahan pelajaran. Bahan yang akan diajarkan harus diseleksi, dipilih yang cocok dengan jenis dan tingkatan sekolah.

Bahan pelajaran sastra yang tersedia untuk diajarkan di SLTP seringkali jumlahnya terbatas. Hal ini menjadi hambatan bagi guru untuk mencobakan strategi tertentu dalam pengajaran sastra. Akibatnya, guru gagal dalam mencapai tujuan pengajaran sastra. Selain itu, kegagalan pengajaran sastra juga dapat diakibatkan oleh kecerobohan guru dalam memilih dan mengembangkan bahan pelajaran sastra.

Oleh karena itu, dalam memilih dan mengembangkan bahan pengajaran sastra yang akan diajarkan kepada siswa SLTP perlu’ diperhatikan kriteria pemilihannya. Kriteria pemilihan bahan pelajaran sastra meliputi segi bahasa, psikologis, latar belakang, pedagogis, dan estetis. Selain itu, bahari pengajaran harus valid, bermanfaat, menarik, dan ada dalam batas-batas kemampuan siswa untuk mempelajarinya, serta harus pula dilihat dari segi ragamnya.

Karya sastra yang menjadi bahan pelajaran harus sanggup berperan sebagai sarana pendidikan menuju ke arah perndan sekaligus cara pemecahannya. Hal bentukan kebulatan kepribadian para siswa. Sesuai dengan fungsi dan perannya, pengajaran sastra diharapkan sanggup mengembangkan berbagai škaaâ .  aspek kejiwaan siswa, seperti perasaan, pikiran, dan indera. Pokoknya, pengajaran sastra harus sanggup mengembangkan cipta, rasa, dan karsa para siswa. Oleh karena itu, bentuk dan isi karya sastra yang guru ajarkan harus diseleksi dengan pertimbangan masak-masak dari segi pengembangan aspek-aspek tersebut.

Menumbuhkan Budaya Baca

Salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk meningkatkan pengajaran sastra yang bersifat. apresiatif adalah dengan memacu siswa agar gemar membaca. Membaca tidak saja terbatas pada buku paket, tetapi juga buku-buku fiksi. Dengan banyak membaca berarti membuat cakrawala berpikir siswa semakin terbuka.

Menumbuhkan budaya baca di kalangan siswa dapat dilakukan dengan memanfaatkan perpustakaan, baik perpustakaan sekolah maupun perpustakaumum dan perpustakaan daerah. Perstakaan merupakan salah satu sumber belajar yang teramat penting. Berkaitan dengan hal itu, perpustakaan sekolah menunjang pelaksanaan kurikulum sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan

perlu dibina sebaik-baiknya agar dapat menunjang pelaksanaan kurikulum seklah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Adapun tujuan perpustakaan sekolah, antara lain meletakkan dasardasar mandiri, memupuk bakat dan minat baca, mengembangkan penghargaan pada pengalaman imajinatif, serta memecahkan masalah atas tanggungjawab sendiri.

Perpustakaan sekolah harus menyediakan buku-buku sastra yang akan dijadikan bahan pelajaran sastra. Kenyataan yang kita lihat di perpustakaan sekolah, kalaupun ada buku sastra yang tersedia, jumlahnya tidak banyak dan tidak bervariasi sehingga tidak dapat dijadikan bahan pelajaran. Akibatnya, buku-buku sastra tersebut rusak bukan karena dibaca, melainkan dimakan rayap.

Untuk menarik minat siswa berkunjung ke perpustakaan, hendaknya juga ruang perpustakaan diatur dengan baik. Suasana yang nyaman, pelayanan yang ramah, dan ruangan yang bersih merupakan hal-hal yang perlu penanganan serius dari pengelola perpustakaan. Jika hal ini mendapat perhatian yang sungguh-sungguh  minat baca siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian, meningkatnya minat baca siswa pada akhirnya akan mengarahkan siswa memiliki kemampuan apresiatif terhadap karya sastra.

Meningkatkan Kemampuan Siswa Mengapresiasi sastra

Kurangnya daya apresiatif siswa terhadap karya sastra terlihat secara jelas dalam kegiatan membaca puisi atau berdeklamasi. Mereka sering salah tafsir dalam membawakan puisi. Penyebabnya diduga dari kurangnya persiapan yang matang, baik secara teoritis maupun secara praktis.

Membaca puisi atau berdeklamasi dalam arti menghidupkan kesan sebuah puisi dan memindahkan puisi dari halaman buku ke depan publik untuk dinilai juri belum memasyarakat. Hal itu terutama karena pembaca sendiri belum mampu mempersembahkan sebuah pembacaan yang apresiatif, kaya makna, serta vokal yang kuat dalam arena lomba. Dengan demikian, akhirnya juri terjebak dan terlena mendengarkan kemerduan suara pembaca puisi itu. Pembacaan yang menampilkan kemerduan suara dengan banyak gerakan hasil rekayasa sendiri yang tentunya bukan refleksi oleh kuatnya penafsiran justru mengaburkan makna sebuah pembacaan.

Bekal dasar membaca puisi umumnya tidak dimiliki oleh siswa karena tidak diberikan secara rinci dalam kegiatan belajar-mengajar sastra. Penyebabnya, pemberian teori membaca puisi yang beranjak dari penafsiran sampai pada latihan-latihan penjiwaan justru lepas dari tuntutan kurikulum. Guru diperhadapkan pada pencapaian target kurikulum. Ini berarti kurangnya kemampuan siswa membaca puisi yang apresiatif dan komunikatif bukan hanya disebabkan oleh guru. Akan tetapi, yang paling berpengaruh adalah belum adanya kurikulum yang baku dalam pengajaran sastra.

Keadaan yang sama juga terlihat pada kurangnya kemampuan siswa mengapresiasi karya-karya prosa. Hal itu terjadi karena siswa teryata lebih menyukai hiburan modern yang mudah dinikmati, seperti menonton tayangan televisi dibandingkan dengan membaca roman, novel, dan cerpen. Walaupun ada siswa yang mau membaca roman, novel, dan cerpen, namun penilaian terhadap karya sastra yang berbentuk prosa itu kurang utuh. Penyebabnya tentu saja karena kurangnya minat baca siswa. Akibatnya, sebuah novel yang baik sering dinilai kurang berbobot seperti jelek, klise, dan

ceritanya tidak menarik. Nilai-nilai yang terkandung di dalam novel hampir tenggelam oleh kurangnya kepekaan siswa menghayati cerita novel tersebut. Untuk mengantisipasi hal itu, kurikulum mempunyai peranan yang sangat penting.

Penghayatan siswa terhadap karya sastra berbentuk drama tampaknya sama dengan penghayatan siswa terhadap prosa. Pelajaran teori drama sebagai suatu pengantar untuk menunjang praktik tidak termuat di dalam kurikulum pengajaran sastra. Dengan demikian, bentuk kreativitas siswa yang mengacu pada keterampiran bermain peran menjadi hilang karena kurangnya aktivitas. Maksudnya,

setiap tahun pelajaran, apresiasi drama jarang dilakukan atau tidak sama sekali. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut, pengajaran sastra semakin mengkhawatirkan.

Untuk mengatasi masalah kurangnya daya apresiasi siswa terhadap karya sastra seperti yang diungkapkan di atas, maka sebaiknya pada setiap sekolah (SLTP), jam pelajaran bahasa Indonesia yang 6 jam setiap minggu itu dibagi dua. Pembagiannya, 4 jam untuk pengajaran bahasa dan 2 jam untuk pengajaran sastra atau disesuaikan dengan kondisi sekolah. Guru yang mengajar juga ada dua

orang. Untuk pengajaran bahasa diajarkan oleh guru bahasa, sedang untuk pengajaran sastra diajarkan oleh guru sastra. Kalau pembagian tugas ini dapat terlaksana, maka harapan kita akan mencapai tujuan pengajaran sastra yang apresiatif dapat tewujud.

Apabila tujuan pengajaran sastra terwujud, maka siswa memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra. Mereka dapat membaca puisi dengan mimik dan intonasi yang tepat. Dapat juga mereka memahami makna yang terkandung dalam setiap puisi, prosa, dan drama yang dibacanya. Selain itu, mereka pun berusaha menciptakan karya sastra, baik prosa, puisi, maupun drama sesuai dengan ke-

mampuan yang dimiliki.

Karya sastra yang dihasilkan oleh siswa memerlukan wada penampungan. Dalain hubungan itulah, guru sastra dapat mengusulkan pendirian majalah dinding kepada kepala sekolah. Hal ini penting sebab pendirian majalah dinding memerlukan dana yang cukup untuk membuat wadah penampungan karya siswa, seperti papan pengumuman yang ada kacanya dan dilengkapi dengan kunci. Pembuatan papan itu hendaknya dibuat secara baik agar menarik perhatian siswa. Selanjutnya, majala dinding itu dipasang pada tempat yang srategis sehingga memudahkan siswa untuk membacabya.

Agar majalah dinding itu dapat terbit secara berkala, maka perlu ditunjuk susunan pengurusnya supaya mereka dapat bekeija sesuai tugas yang diembannya. Selain itu, naska yang diterbitkan setiap minggu harus dilakukan secara bergilir pada setiap kelas. Seandainya dalam suatu waktu tertentu ada kelas yang jumlah karyanya belum cukup untuk dipasang pada majalah dinding, maka untuk mencukupinya dapat diambil karyakarya kelas lain, ataukah pengurus majalah dinding yang membuat karya-karya yang dimaksudkan.

Selain mendirikan majalah dinding, di sekolah juga perlu dibentuk sanggar kegiatan sastra. sanggar kegiatan sastra ini merupakan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat siswa bermain peran (berakting) dan membaca puisi di luarjam pelajaran di sekolah. Agar kegiatan ini dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan, guru sastra dituntut untuk turut menambah pengetahuan dan pengalamannya dalam peugapresiasi sasIra.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru sastra memegang peran yang sangat penting dalam mewujudkan pengajaran sastra yang apresiatif di SLTP. Guru sastra merupakan ujung

tombek pengajar sastra sebab secara langsung berhadapan dengan siswa. Oleh karena itu,dalam membenahi pengajaran sastra di SLTE peningkatan kualitas guru harus mendapatkan prioritas utama di samping kurikulum sastra yang baku yang menempatkan pengajaran sastra sejajar dengan pengajaran bahasa.

Hal ini penulis katakan sebab bagaimanapun baiknya sstiap komponen dalam pengajaran sastra jika guru sastra tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka tujuan pengajaran sastra tidak akan tercapai.

Penulis beberapa kali menjadi juara dalam lomba karya tulis tingkat nasional, di antaranya juara I Lomba Mengarang Esai kebahasaan untuk Guru SLTP Tingkat Nasional yang diadakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Jakarta 1994.

Sumber: Majalah DUNIA PENDIDIKAN No. 40, 15 Desember – 14 Januari 2003, halaman 25-26

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: