Oleh: mdponline | Oktober 1, 2010

Ketua Forum RSBI Sulsel : Drs. Muh. Hasbi, M.Pd “Pengelolaam RSBI di Sulsel Butuh Komitmen”

Drs. Muh. Hasbi, M.Pd

KEWENANGAN sekolah berlebel Rintisan Sekolah Bertaraf Intemasionai akan diserahkan kepada provinsi, Kebijakan tersebut merujuk dari dasar hukum Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007  menyangkut Pembagian urusan antar pemerintah provinsi dan kabuPaten kota. PP ini turunan dari Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Penyerahan wewenang RSBI di provinsi agar Pemprov punya tang gung jawab dalam hal pendanan. APa dan bagaimana Penyerahan tanggung jawab ini, berikut wawancara wartawan Duniia Pendidikan, Drs. M. Rusdi, M.Si dengan Ketua Forum RSBI Sulsel, Drs.Muh.Hasbi. M.Pd, baru – baru ini di ruang kerjanya yang dikemas dalam tulisan berikut :

Bagaimana tanggapan bapak dengan penyerahan tanggung jawab pengelolaan RSBl ke Pemprop ?

Saya kira itu bagus asalkan Pemerintah Provinsi punya komitmen untuk membangun RSBi agar meningkat ke SBI. Komitmen yang saya maksud adalah keseriusan Pemprov mengucurkan dana bantuan, khususnya di Sulsel. Pasalnya, tiga tahun lalu sudah ditandatangani nota kesepahaman (memorandum of understading) antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten kota terkait dengan sharing pendanaan RSBI. Pemerintah pus at sudah mematok dana operasional RSBI sebesar Rp. 800 juta pertahun dengan perincian 20 persen ditanggung Pemerintah kabupaten/kota, 30 Persen Pemprov, dan 50 Persen Pemerintah pusat. Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah pusat dan Pemkot (Makassar-red) sudah mengucurkan dana sesuai hasil MOU, sementara Pemprov belum pernah. Jadi kalau kewenangan ini diserahkan kepada provinsi, akan perlu ada komitmen yang kuat terkait dengan pendanaan tadi.

SMP Negeri 12 Makassar

SMP Negeri 12 Makassar

Apakah hanya dangan Pendanaan ?

Saya kira tidak, masih ada aspek lain di antaranya, kebijakan, kurikulum, ketenagaan, pengendalian mutu, sarana dan prasarana. Namun yang terpenting di antara item itu adalah pendanaan karena menyakut dana operasional. Kita ingin menuju ke Sekolah Bertaraf Intemasional (SBI) masih banyak hal perlu dibenahi. Kalau standar nasionalnya mungkin bisa capai, tetapi standar internasional sulit tarena harus memenuhi beberapa kriteria. ]adi kalau RSBI ditangani oleh Provinsi sesuai dengan penjelasan Wakil Mendiknas, Fasli Djalal bahwa kewenangan RSBI diserahkan ke provinsi, maka pihak terkait perlu duduk bersama merumuskan konsep yang jelas, khususnya kewenangan pendanaan dan aspek esensil lainnya. Pasalnya, proses dari RSBI ke SBI bukan hal vang mudah karena harus merujuk standarisasi dimensi internasional. Indikatornya adalah standar ISO. Untuk mencapai standar ini lagi-lagi bukan hal yang mudah, selain harus menyiapkan dana kisaran RP.100 juta, juga perlu pendukung lainnya.

Bapak optimis RSBI akan eksis jika kewenangan pengelolaan diserahkan kepada provinsi.

Sebagai kepala sekolah RSBI (SMPN 12 Makassar) dan ketua forum RSBI tetap optimis, hanya perlu saja perlu klta duduk bersama kembali untuk memperktrat komitmen sesuai dengan hasil MOU tiga tahun lalu, supaya antara sekolah dengan Pemrpov bisa sinergi. Hal-hal yang perlu dibicarakan, pendanaan dan sarana –prasarana dan ketenagaan. Harus diakui Proses dari RSBI ke SBl bumh dana besar karena sekolah harus disulor menjadi sekolah dengan standar intemasional. Maksudnya, ruang kelas representative dan berbasis ICT. guru harus menguasai dua bahasa (billinguage) –Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, kompetensi guru terhadap mata Pelajaran, dan terpenting wajib ada kerjasama dengan sekolah di luar negeri (sister schools). Selain optimis, saya juga menilai penyerahan kewenangan penanganan RSBI ke provinsi ini sebagai hal yang positif, karena Promprov, khususnya Dinas Pendidikan Provinsi (Disdik) berkonsentrasi manangani RSBI. Saya salut dengan Pemprov Sulawesi Tengah yang sangat intens mengurusi RSBI. Kerjasama Pemprov dan Pemerintah kabupaten/ kota.

Pengalaman Bapak sebagai Kepala Sekolah RSBI ?

Dalam tiga tahun terakhir ini, sekolah yang saya pimpin (SMPN 12-red) sudah berjalan secara normal, kami mengelolah RSBI sesuai dengan petunjuk tekhnis dari Depdiknas. Mulai dari rekrutmen sampai peningkatan kualitas tenaga pendidik Rekretumen kami mulai sejak April2010 dengan menerima calon siswa rata-rata nilai raport kelas empathingga kelas enam 250 ditambah USBN 7,50. Selain itu, ada pskotest kerjasama dengan UNM, praktik komputer, Bahasa Inggeris, dan Imtaq. Selajutnya, calon siswa mengikuti martikulasi. Sementara tenaga pendidik diwajibkan mengikuti kursus Bahasa Inggeris secara berkala dan penggunaan ICT. Kendala yang ada yaitu, fasilitas pendukung, khususnya rudng kelas. Namanya RSBI, maka semua kelas harus besis ICT, namun di sekolah kami gedung yang belum memenuhi syarat, karena gedung yang ada umumnya dibangunan tahun 1981 dan belum pemah direnovasi. Tapi pada kesimpulannya untuk dimensi standar nasional kami sudah capai.

Bagaimana halnya dengan dimensi keinternasionalan ?

Kami sedang melakukan penjajakan, khususnya sister schools dengan sekolah SMPN (Junior high Schools) di Malaysia dan Singapura melalui Organization for Economic Coolperation Developrnent (OECD). Penjajakan itu dilakukan karena persyaratan utama RSBI ke SBI harus punya sekolah kembar di luar negeri . Persyaratan iairy standar ISO, dan penguasaan bahasa asing bagi tenaga pendidik.

Dana Operasional ?

Selama ini dana pendampingan mendapat kucuran dari Pusat dan Pemkot Kota Makassar. Selain, kami

juga mendapatkan bantuan lewat dana BOS dan Pendidikan Gratis. Sesuai dengan aturan, RSBI boleh memungut dana dari masyarakat. Jadi saya kira soal dana operasional sudah tidak ada masalah, hanya saja yang perlu mendapatkan adalah perhatian proses menuju ke SBI. Pasalnya, jika sudahberstatus SBI, maka dana yang dibutuhkan juga semakin besar.

Soal kemampuan tenaga pendidik ?

Seharusnya jika RSBI cepat prosesnya menuju SBI maka perlu ada reposisi guru, khususnya guru-guru senior. Pasalnya, guru yang ada butuh waktu untuk meningkatkan skill, khususnya penguasaan Bahasa asing (Inggris-red) dan komputer. ( Rusdi )

Sumber : Majalah DUNIA PENDIDIKAN No. 129, Juli 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: