Oleh: mdponline | Oktober 1, 2010

Sertifikasi Guru Vs Remunisasi Kemenkeu

M.S. Salman

Oleh MS. Salman (Kepala SDN 71 Parepare )

Banyak pihak yang akhir-akhir ini meragukan efektifikasi program sertifikasi guru dapat meningfutkan profesionalis pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Beberapa di antaranya bahkan telah melakukan penelitian rurtuk membuktikan bahwa program sertifikasi guru temyata tidakberkorelasi dengan peningkatan kualitas guru. Di beberapa kasus bahkan memperlihatkan adanya penurunan kinerja guru yang telah disertifrkasi.

Menyadari hal tersebut, bermunculanlah berbagai wacana dalam menanggapi kelanjutan program yang baru berjalan 4 tahun ini. Salah satu wacana yang mulai disuarakan dan termasuk ekstrem adalah penghentian program yang telah membuat guru mulai “tersenyum” itu. Penghentian program sertifikasi gwu merupakan wacana yang sangat mengada-ada, apalagijika dihubungkan dengan program remunerasi di Kementerian Keuangan. Kasus Gayus dan beberapa pejabat di Dirjen Pajak Kemenkeu sudah jelas mencoreng dan menisakan program remunerasi kementerian tersebut. Miliaran rupiah “dirampok’ oleh satu orang saja “yang ketahuan” di Kemenkeu. Jika dibandingkan dengan program sertifikasi, maka dana miliaran dapat diperunnrkkan unnrk guru, ribuan jumlahnya.

Persoalan remunerasi di Kemkeu dan persoalan sertifikasi guru dapat disamakan bahwa hanya terjadi pada kasus-kasus tertentu, tetapi perlu dinilai secara bijak bahwa kerugian Negara dan rakyat pada kasus yang terjadi di bawah Kemkeu sungguh tak tertandingi jika disandingkan dengan kasus pada persoalan sertifikasi guru. Perlu diingatbahwa program remunerasi bisa mencapai berkali-kali lipat dari gaji awal di Kemkeu, sedangkan sertifikasi guru hanya satu kali lipat dari gaji pokok awal, itupun masih dipotong paj ak dan penyalurannya tertunda-tunda. Program remunerasi pada hakekatrya hanya bertujuan mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang (korupsi), sehingga tak ada tuntutan terlebih dahulu dalam peningkatan kinerja termasuk peningkatan moral manusianya. Laindengan program sertifikasi, guru harus terlebih dahulu memperlihatkan keunggulan-keunggulan yang di milikinya dengan data ternilis dan melalui uji materi pada asesor-asesor di perguruan tingg yang dihrnjuk Hai ini menunjukkan bahwa program sertifikasi gurujelas lebih elegan dibanding progftur remunerasi Program sertifikasi guru sama sekali tak patut dicap telah gagal dari tujuannya. Kasus satu dua yang terjadi bukanlah indikasi kegagalan program ini, juga tak dapat diuniversalkan secara keseluruhan. Perbandingan dengan remunerasi di Kemkeu wajar diungkap untuk “menerangbenderangkan” keganjilan wacana penghentian pregram sertifikasi guru. Guru, sebelum adanya program sertifikasi telah terbiasa hidup kekurangan, sekarang ini sebagian di antara mereka telah dapat meiasakan kelegaan hidup wajar dan belum dapat dikatakan hidup berkecukupan. Masih lebih setengah dari jumlah guru di republik ini belum merasakan “manisnya” sertifikasi tersobut. Penambahan penghasilan satu kali lipat lebih banyak dan dipotong pajak serta penyalurannya terfirnda-tunda itu, jelas belum dapat dikatakan guru telah hidup berkecukupan apalagi berkelebihan seperti “si Gayus”. Program sertifikasi merupakan anugrah bagi guru yang selama ini hidup susah, dan tak ada jalan bagi mereka untuk menumpuk harta yang haram seperti “Si Tambunan”.

Rezeki guru adalah sertifikasi tersebut, sedangkan rezeki Kemkeu adalah remunerasi. Meski dari segijumlah jauhberbeda, tetapi tentu akan adil jika tersandung masalah seperti saat ini, penghentian remnnerasi lebih diutamakan dibanding sertifikasi guru. Kesejahtgraan yang dirasakan sebagian guru saat ini merupakanberkah dari keda keras mereka selama berpuluh-puluh tahun. Program sertifikasi merupakan kelumrahan yang memang ssmestinya diberikan pemerintah menghargai jasa guru serta msndorong peningkatan kinerjanya.

Adanya persoalan satu dua guru Yang lurang mengerti hakekat program sertifikasi guru tentu hirus pula dicermati. Walau bagaimanapun, guru harus mengabdikan dirinya unhrk kepentingan pendidikan anak bangsa, sehingga kineja mereka harus selalu optimal apalagi dengan adanya penambahan penghasilan ini. Dengan jumlah guru yang hampir dua juta orang di seluruh penjuru tanah air, maka hampir-hampir kelauangbermanfaatan program sertifrkasi yang dilakukan guru’ tidak terpersentasekan. Jika kejujuran didahulukan makapeningkatankinerja danperasaan bangga sebagai gurulah yang menyeruak selama sertifikasi ini disalurkan. Apalagi jika kita merenungi miliaran uang rakyat yang dikorup, bahkan setelah progam remunerasi diterapkan Renungkanlah. . .SEKIAN.  MS. Salman (Kepala SDN 71 Parepare )

Sumber : Majalah DUNIS PENDIDIKAN No. 129, Juli 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: