Oleh: mdponline | Oktober 3, 2010

Gender dalam Lontara La Galigo

Hajerah Kadir

Oleh Hajerah Kadir

(Guru SDN No. 2 Unggulan Maros)

I. Pendahuluan

Salah satu sumber data yang mengungkapkan latar belakang sejarah dan budaya suatu daerah ialah dengan naskah kuno. Dalam masyarakat Bugis Makassar yang telah memiliki budaya tulis terdapat naskah kuno yang memberi informasi tentang berbagai unsur-unsur budaya pada masa lalu. Unsur-unsur budaya yang terkandung dalam naskah kuno terebut merupakan khasanah budaya bangsa yang perlu diungkapkan agar dapat dij adikan bahan pembinaan dan pengembang kebudayaan nasional. Naskahkuno memiliki nilai budaya dan ilmiah yang merupakan suatu dokumen dan bukti nyata dari suatu peristiwa yang mengandung pengertian sebagai tanda peringatan, dan tanda peristiwa sejarah dan budaya.

Salah satu naskah kuno lontara yang sampai sekarang tetap menarik perhatian dan minat kebanyakan anggota masyarakat Sulawesi Selatan adalah “Lontara La Galigo”. Dalam lontara tersebut tercatat keanekaragaman pengetahuan tradisional yang secara pokok dapat diidentifikasikan sebagai kisah dan tokoh mitologis; cerita tentang peristiwa legendaris, struktur alam falaq, pengetahuan tentang asfronomi, kisah peperangan antar kerajaan, kemaritiman pengetahuan tentang roh dan makhlukhalus, tatakrama dalam pergaulan, dan aspek kehidupan La Galigo juga tercermin adanya penceritaan tentang bagai mana perbedaan kedudukan antar laki-laki danperempuan. Hal tersebut tercermin dari berbagai aspek kehidupan pada masa Sawerigading.

II. Pembahasan

Dalam lontara La Galigo, dibahas secara tuntas setiap aspek kehidupan, sosial, budaya, dan ekonomi. Selain itu, dalam lontara La Galigo banyak dikisahkan tentang peranan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Setiap tokoh digambarkan sejak lahir, perjalanan hidupnya, sampai tokoh tersebut meninggal.

Suku Makassar dalam menjalani hidup rumah tangga, sangat sedikit laki-laki yang mau berperan aktif dalam aktifitas rumah tangga, Misalnya, membantu dalam mengerjakan pekerjaan dapur, membersihkan rumah, dan sebagainya. Mereka menganggap bahwa dapur, membersihkan rumah sepenuhnya adalah tugas perempuan. Dari aspek sosial, suku Makassar, memiliki falsafah “A bulo Sibatang”. Artinya gotong royong.

Lontara La Galligo menceritakan awal mula kehidupan manusia, Oleh sebab itu, penulis menginginkan penggambaran gender pada masa itu. Gender adalah sifat yang melekat pada kaum perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh faktor social maupun budaya yang bukan disebabkan oleh perbedaan seks, sehingga beberapa anggapan tentang peran sosial dan budaya perempuan dan laki-laki: Dalam konsep gender ada beberapa unsur yang menjadi kajian utama, yakni: subordinasi, dan marginalisasi. Kajian utama inilah yang akan dihubungkan dengan Lontara La Galigo.

Untuk mengungkap kedudukan perempuan dalam berbagai aspek kehidryan, maka terlebih dahulu diklasifikasikan unsure-unsur gender, sosial, budaya, serta unsur-unsur komunitas manusia yang ada di dalam wacana Lontara La Galigo’

Cerita ini diawali ketika Penguasa langit Sang Pencipta: “sangiyangpayung bersabda, Rumamakkompong telah tiga hari aku tak melihat kalian, baliurang sepi’- Rukellempoba dan Rumamakkompong berdatang sembah: “Ampun tuanku! Kami datang tengah cakrawala melakukan permainan orang langit: menyabung petir, kilat, guntur dan halilintar di atas dunia bawah. Amatlah gelap gulita dan sepi di sana Kami tidak mendengar pujaan-pujaan dipanjatkan ke langit atau dipersembahkan turun ke Pertiwi. Baiklah kiranya tuanku menempatkan anak cucu tuanku di Dunia tengah, agar tak hampa dan ada cahaya di sana. Apalah arti dewata apabila tak ada manusia yang menyembah langit dan pertiwi. Sang Pencipta membenarkan apa yang dikemukakan kedua pramubaktinya itu. Baginda pun masuk menemui permaisurinya, Datu Palinge untuk membicarakan gagasan itu. Datupalinge menyetujui. Siapakah di antara anak mereka yang akan dikirimnyake bawah? Aji Pawenang dan RiuTellemme tidak mungkin karena mereka telah memperoleh pusakanya dan telah pula kawin di langit. Bagaimana dengan Lettewarani? Datu Palinge keberatan mengirimnya, karena dia anaknya yang bungsu lagi pula tak berwatak baik. Maka jatuhlah pilihan pada Batara Guru, yang terpuji, akan tetapi sayang ia belum kawin. Adik To Palanroe, Sinaungtoja yang kawin dengan Yang Dipertuan di Dunia Bawah, kiranya dapat mengirim putrinya ke atas, Dunia tengah untuk menjadi permaisu Batara Guru. Demikian usul Datu Palinge yang disetujui oleh suaminya, Sang Pencipta.

Ada dua orang dayang-dayang menmpak dari jendela istana akan kedatang mereka. Segeralah mereka masuk ke dalam memberitahukan kepada sang pencip dan permaisurinya bahwa agaknya Guru ri Selleng dan permaisurinya telah tiba & sekarang sedang berada di depan istana “sambut dan bawa mereka ke dalam dengan segala upacara kebesaran!” sabut Sang Pencipta Aji Pawewang, Sangkamalewa (Muda) dan Sinrampatara bersenda gurau dengan gembira ria. Sinaungloja mengerling kepada mereka, dilihatnya San kamalewa duduk bersama Batara Guru atas sebuah kursi. Sang Pencipta mengemukakan kepada Guru ru Selleng dan istnya, cita-citanya mengisi Dunia Tengah dengan penghuninya, agar sekalian saudara, para sepupu, dan lain-lainnya bersama-sama merundingkannya. Yang dipertuan di Bumi Bawah dan permaisurinya memberitakan bahwa mereka memiliki 9 orang anak. Kemudian Sang Pencipta dan permaisurinya mengatakan mereka juga memiliki 9 orang anak. Selanjutnya sang penclta mengajukan pertanyaan, putra yang manakah yang baik dikirim ke Dunia Tengah? Cara menanyakan itu seperti di atas, akan tetapi kini dihadapi majelis yang lengkkap. Akhimya pilihan beliau atas Batara Guru mendapat persetujuan semua yang hadir Sinaungoja akan megirim pula putrin We Nyili’timo ke atas untuk menjadi permaisuri Batara Guru. To Balaunyi akan mengirim pula putrinya We Padauleng, yang mudah tersinggung; Sangkamalewa (tua) akan mengirim anaknya (tidak disebu namanya) ke bawah, seorang sabung ayam lagi tak suka mendengar nasihat dan pembual, yang lain-lain menunjuk pula anaknya berturut-turut, yang dapat dikirim ke Langit dan DuniaTengah.

Demikian awal mula manusia di bumi ini yang diawali dengan musyawarah besar dari penghuni dunia atas (langit). Dari pembicaraan antara Sang permaisuri Datu Palinge dan suaminyaDatu Patoto, Datu palinge mengusulkan kepada hadirin bahwa Batara Guru lah yang pantas diturunkan untuk mengisi dunia tengah. Usulan Datu Palinge Sang Permaisiri ini membuktikan bahwa perempuan juga dapat memberikan usulan dan usulan tersebut diterima dan dilaksanakan.

Berdasarkan kutipan cerita yang dikutip dari naskah Lontara La Galigo, dapat diketahui bahwa pendapat perempuan juga mendapat andil dalam memutuskan masalah. Selain hal tersebut di atas, dalam Lontara La Galigo terdapat subordinasi, Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin yang lainnya. Menempatkan kedudukan perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Subordinasi timbul sebagai akibat pandangan gender terhadap kaum perempuan. Sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting muncul dari adanya anggapan bahwa perempuan itu emosional atau irasional sehingga perempuan tidak bisa memimpin merupakan bentuk dari subordinasi.

Subordinasi yang disebabkan gender karena gender terjadi dalam bentuk dan mekanisme yang berbeda dari waktu kewaktu. Dan dari tempat ke tempat yang lain. Dalam kehidupan di masyarakag rumah tangga, dan bernegara banyak kebijakan yang dikeluarkan tanpa menganggap penting kaum perempuan. Berikut akan dikutip penggalan kalimat tentang subordinasi dalam Lontara La Galigo:

Diutusnya seorang pejabat wanita istana kepada orang tuanya, yang telah sepuluh hari istrinya tak makan. Kedua beliau itupun segera mengikut ke bilik anaknya. We Nyili’timo mendapatinya bahwa menantunia telah mengtandung. Disuruhnymenyediakan segala sesuatunya yang diperlukan untuk memandikannya. We Datu Sengngeng dimandikan menurut ritual kepercayaan.

Streotlpe pada dasarnya adalah pelabelan atau penandaan negatif terhadap kelompok atau jenis kelamin tertentu. Akibat dari streotlpe ini adalah timbulnya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan. Salah satu bentuk streotipe adalah bersumber dari pandangan gender. Berikut data tentang streotipe dalarn Lontara La Galigo:

Hal ini diberitakan kepada We Datu Sengngeng di dalam istananya, dimintanya supaya pedagang-pedangan itu disuruh datang kepadanya. Bataralah  menjawab permintaan itu dengan kelakar kepada pesuruh-pesuruh wanita akan tetapi akibatnya ia pergi juga ke istana dan amatlah sukacita dan nyaman perasaannya mendapati We Datu Sengngeng dalam keadaan yang sangat gembira.

Kutipan tersebut merupakan salah satu bagian dari streotype yang menganggap bahwa kata’ pesuruh” identik dengan wanita. Wanita sebagai seorang yang didominasi. Dengan label “pesuruh” terjadi ketidakadilan dan dari ketidakadilan mengakibatkan diskriminasi. penulis ingin mengungkapkan bahwa dengan label’ pesuruh” menjadi keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan dengan status social yang rendah saja yang dapat dikerjakan oleh wanita, sedangkan laki-laki dryat beke{a pada tingkat sosial yang lebih tingCt. Masyarakat telah menganggap bahwa laki-laki adalah pencari nafl<ah, sedangkan wanita hanya pelengkap saja.

Marginalisasi yang disebabkan gender terjadi karena timbulnya kemiskinan yang terjadi di masyarakat dan negaramerupakan dari akibat dari proses marginalisasi yang menimpa kaum laki-laki danperempuan. Bentuk marginalisasi perempuan disebabkan oleh gender inequalities (ketidakadilan gender). Berikut data kosakata/frasa mengenai marginalisasi yang disebabkan oleh dalam Lontara La Galigo:

Setiba dipelabuhan Tompo’tika sawerigading lalu mandangar segala sesuatu mengenai kedua saudara kernbarPallawagau We Tenrirawe dan tenang kepergian sang putri membuang diri. WeAdiluwu yang jugaterkenang akanjanji adiknya merrinta kepada Sawerigading agar ke Wedang Apabila temyata La Tenripepeng mppunyai isti selainWe Rawe, makahendaknya iabela sepupunya dengan memerangi La Tenripepang, lalu mengawini We Tenrirawe.

Kutipan merupakan salah satu marginalisasi terhadap perempuan. Seorang wanita yang lahir kembar (dinru ulaweng) atau kembar emas, seorang perempuan dan seorang laki-laki, maka perempuan yang harus dibuang dan disingkirkan ke daerah lain Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak saling jatuh cinta satu sama lain. Namun yang menjadi permasalahan, mengapa harus perempuan yang dibuang atau disingkirkan. Peristiwa tersebut terjadip ada Pallawagau’ yang lahir kembar emas (dinru ulaweng) dengan We Tenrirawe di Tompo’tikka. Dernikian juga dengan Sawerigading dan We Tenriabeng. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa perempuan tidak memiliki fungsi di tempat itu sehingga harus dipinggirkan/disingkirkan.

Oleh Sawerigading dikemukakan ketika itu lebih lanjut perihal perkawinannya dengan seorang wanita yang lebih rendah derajatnya dari I We Cudai, yang telah disinggung oleh baginda, raja Cina. La Tenriranreng dan La Makkasau hanya dapat mengemukakan I We Cimpau di Lempang -lempang. (perilsa lampiran data 62)

Kutipan ini merupakan merginalisasi terhadap wanita yang memiliki tingkat social rendah. Wanita yang memiliki tingkat sosial yang lebih rendah dapat menjadi tertindas oleh laki-laki yang memilki status yang lebih tinggi. Ada kaum yang tertindas dan yang menindas. Pada saat Sawerigading mengembara ke negeri Cina, Sawerigading tidak dapat memperistri I We Cudai sesuai yang direncanakan tetapi melewati beberapa halangan dan rintangan, setelah satunya rintangannya berasal dari I We Cudai sendiri yang selalu memandang rendah kepada Sawerigading. Sawerigading kemudian mengawini seorang wanita yang lebih rendah derajatrrya dibanding dengan I We Cudai bemama I We Cimpau. I We Cimpau hanya dijadikan sebagai pelarnpiasan saja. Hal ini dilalarkan dengan maksud membuat I We Cudai iri kepada I We Cimpau.

III. Simpulan

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa, ketidakadilan gender tampak pada tingkat sosial, budaya, identitas sosial, dan hubungan sosial antar tokoh. Dalan Lontara I-a Galigo terdapatjuga ketidakadilan gender seperti, beban kerja yang lebih didominasi kaum perempuaq subordinasi, steotype, dan marginalisasi. Dalam unsur birdaya, perempuan juga menjadi sokoguru bagi kaum laki-laki, dengan mengambil kunyahan sirih dari mulut perempuan dianggap dapat memberikan kekuatan bagi lakilaki dalam berpergian. Tradisi yang lain adalah ajang sabung ayam, yang sudah menjadi warisan turun temurung di kalangan masyarakat Bugis.*

Sumber Majalah DUNIA PENDIDIKAN NO. 129, JULI 2O1O


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: