Oleh: mdponline | Mei 14, 2011

Bagaimana Sebaiknya Usaha Kita Mendidik Anak ?

Tentunya sudah sejak lama kita mengetahui bahwa tidak sedikit orang tua merasakan kecewa atas perkembangan anak-anaknya. Para orang tua tentunya sangat sekali mengharapkan agar anak-anaknya menjadi orang yang baik serta berprestasi, baik disekolah maupun dilingkungan masyarakat

sekitarnya. Tetapi kenyataan yang diperoleh justru sebaliknya, anak-anaknya menjadi anak yang nakal, kurang ajar, senang membantah orang tua, bodoh dan sebagainya. Hal yang sebaliknya juga tidak sedikit pula dengan para orang tua yang merasa bahagia dan puas atas perkembangan yang dicapai anak-anaknya. Para orang tua mempunyai anak-anak yang pintar disekolah, berprestasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, tidak kurang ajar dan patuh terhadap orang tua. Dan tentunya semua ini kalau kita sebagai orang tua menyadari, bahwa anak-anak itu dalam hal pendidikan tetap menjadi tanggungjawab kita sebagai orang tua. Entah anak-anak kita berhasil ataupun tidak, untuk langkah-langkah selanjutnya tentulah akan mencarikan jalan yang terbaik buat anak-anak kita. Dan peranan orang tua memang menjadi kunci pokok dalam hal pendidikan anak.

Disini ada beberapa hal ataupun langkah-langkah kebijaksanaan kita sebagai orang tua dalam usaha mendidik anak-anak.

1. Mengadakan Dialog dengan Anak

Di dalam memberikan kasih sayang kepada anak, bahwa berdialog dengan anak sangatlah penting dilakukan dalam upaya mengadakan komunikasi timbal balik antara orang tua dan anak di dalam keluarga. Tetapi masih sering kita menyaksikan bahwa orang tua justru jarang sekali berdialog dengan anak-anak nya secara intim. Dan orang tua seakan-akan ingin menciptakan kewibawaan dirinya dihadapan anaknya. Para orang tua pun lebih sering ”bermon0log” dengan anaknya, artinya orang tua yang bicara sedangkan anaknya hanya mendengarkan dan harus menerima tentang apa yang dikatakannya itu. Tentunya bahwa kecenderungan semacam ini sama sekali terasajanggal dan salah dalam mendidik anak, bahkan sering menimbulkan akibat-akibat sampingan yang negatif. Umpamanya, anak menjadi tidak jujur atau anak pura-pura baik di hadapan orang tua tetapi akan berbuat buruk apabila anak berada dibelakang kita serta mencuri-curi kesempatan untuk berbuat tidak baik dan lain sebagainya. Oleh sebab itu _sebaiknya orang tua lebih sering dan merasa senang untuk berdialog dengan anaknya dari hati ke hati. Biarkan anak mengemukakan pendapatnya tentang sesuatu persoalan dan orang tua akan menanggapinya dengan sikap terbuka serta bijaksana.

2. Menunjukkan Contoh-Contoh yang Baik

 

Pada masa perkembangan anak selanjutnya, kita mengetahui bahwa anak sebenarnya sangat membutuhkan ”tokoh-tokoh idola” yakni orang-orang yang dapat ditirunya dan dijadikan pedoman untuk berbuat. Tokoh-tokoh idola tersebut bisa berupa tokoh-tokoh yang nyata ataupun hanya di dalam cerita-cerita .Tentunya anak-anak selalu terpesona kepada tokoh-tokoh yang dikaguminya itu lalu si anakpun akan berusaha mengidentiikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh tersebut. Di sini, bahwa segala nilai yang terpancar dari sang tokoh akan diambil oleh anak dan dijadikan pegangan hidupnya. Hal semacam ini adalah suatu proses psykologisj yang tidak bisa dielakkan begitu saja. Dan tentunya orang tua harus menyadari akan hal ini. Begitu pula sikap kontrol orang tua terhadap sang tokoh yang menjadi identifikasi anak-anak tersebut. Sebab kalau tokoh-tokoh yang menjadi idola anak adalah tokoh buruk, tidak mustahil pula anak pun berkembang jadi buruk. Oleh karena itu alangkah idealnya jika para orang tua adalah orang-orang yang amat senang membaca buku-buku cerita ataupun buku-buku sejarah, sehingga para orang tua pandai bercerita kepada anak dan menunjukkan tokoh-tokoh yang bijak dan bisa menjadi identifikasinya anak. Tetapi mengingat bahwa tokoh identifikasi bisa berupa tokoh nyata, maka ada baiknya pula jika para orang tua bisa pula menjadi tokoh-tokoh idola anaknya yang baik, karena segala tingkah laku para orang tua tidak terlepas dari perhatian anak setiap harinya. Dan hal ini tentunya akan sangat berpengaruh pada perkembangan pribadi anak yang masih mencari-cari pegangan untuk berpijak.

3. Mengembangkan Kreativitas Anak

Kita mengetahui bahwa pada dasarnya setiap anak yang normal itu memiliki sifat kreatif. Anak tentunya selalu memiliki hasrat untuk berbuat sesuatu dan berprestasi. Tetapi kadang-kadang situasi dan kondisinya sering menghalangi daya kreatifitasnya itu. Misalnya ; anak ingin mengikuti perkemahan pramuka, latihan vokal group atau latihan drama dan sebagainya. Tapi orang tua justru

melarangnya. Semua ini bisa pula dimaklumi, sebab tidak ada orang tua yang bermaksud tidak baik dengan menghalang-halangi anaknya untuk ikut suatu kegiatan. Mungkin anaknya dari pengaruhengaruh negatif temannya ataupun sebab-sebab lainnya. Tapi menghalangi dengan mela-

rang begitu saja, tentunya suatu tindakan yang kurang bijaksana. Tak mustahil akan terjadi timbulnya gejolak-gejolak negatif pada diri si anak. Dan pada akhirnya anak-anak akan mencuri-curi kesempatan untuk lolos atau mencari pelarian ke tempat lain. Nah, untuk menghadapi hal-hal tersebut sebaiknya para orang tua tidak begitu saja menghalangi kehendak anak, tetapi harus mampu menyalurkan kreatifitas anak-anak tersebut. Dan tentunya ini haruslah diikut dengan kontrol orang tua terhadap anaknya secara wajar serta memberikan kebijaksanaan ataupun jalan keluar dengan tujuan untuk memupuk serta mengembangkan kreatifitas anak.

4. Menghindari Pendidikan Ekstrim

Masalah pendidikan yang ekstriin dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu pendidikan yang ‘otoritert dan pendidikan ‘anarkisfl Dan kedua pendidikan ini sama-sama ekstrimnya. Lalu tentang pendidikan yang ‘otoriter’ ialah pendidikan yang amat mementingkan kewibawaan pengasuh (orang tua dalam pendidikan rumah tangga), tetapi kewibawaan itu diperolehnya dengan cara yang salah. Dalam hal ini pengasuh lebih sering menakut-nakuti anak dengan ancaman hukuman-hukuman. Pengasuh sangat mementingkan kepatuhan anak kepadanya. Dan tak segan-segan pula pengasuh menggunakan berbagai argumentasi moralis yang ngawur. Karena itu seiring dengan tindakannya, terkadang pengasuh tidak memperhatikan dan memberikan kesempatan tumbuhnya cita-cita serta keinginan tahu anak, jika hal tersebut tidak sesuai dengan keinginan anak. Dan sebagai akibatnya, kepribadian anak tidak bisa tumbuh dengan wajar, anak tidak bisa mengembangkan inisiatifnya dan anak-anakpun menjadi matang secara terpaksa. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri pendidikan yang otoriter, yaitu senang memerintah dan melarang.

Kebalikannya pendidikan otoriter ialah pendidikan anarkis, tetapi sama-sama ekstrimnya. Kalau di dalam pendidikan otoriternya bahwa pengasuh dikuasai oleh nafsu berkuasa mutlak, sebaliknya pendidikan anarkis seperti tak kuasa sama sekali mengendalikan anak-anak didiknya, sehingga anak kecenderungan untuk berkembang semaunya sendiri. Dan didalam pendidikan keluarga , adalah orang tua yang sama sekali tidak mampu mengendalikan anak-anaknya. Hal ini dimungkinkan karena kesibukan orang tua di luar, kebodohan ataupun kemiskinan. jadi masalah perkembangan sama sekali tidak terkontrol. Dan pendidikan anarkis semacam ini sebenarnya sama bahayanya dengan pendidikan otoriter. Sebab kenakalan anak akan lebih mudah berkembang daripada berprestasi yang positif. Pendidikan anarkis selalu dilingkupi kabut kemasabodohan orang tua serta terlepasnya kontrol-kontrol terhadap anak-anak. Dan kenakalan si anak dalam pendidikan anarkis ini cenderung untuk dibiarkan saja tanpa berusaha keras untuk mengatasi atau mendidik anak tentunya lebih diutamakan dari yang lainnya. Dan bagaimana pun bahwa anak itu adalah tumpuan harapan serta buah hati kita sebagai orang tua.

( Tri Astoto Kodarie )

Sumber : Majalah DUNIA PENDIDIKAN No. 40, 15 Desember 2002 – 14 Januari 2003, halaman 22-23.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: