Oleh: mdponline | Mei 14, 2011

BIAYA PE DIDIKAN DAN PENGENTASAN KEMISKINAN (Fenomena Kasus di SMK Negeri 1 Watansoppeng)

 

Oleh S.M. Alie

(Pemerhati Pendidikan di Soppeng)

Dewasa ini bila kita berbicara mengenai masalah pendidikan, maka yang per-tama terpikirkan adalah masalah biaya yang oleh kebanyakan kalangan orang tua peserta didik (murid / siswa) menganggap bahwa pendidikan itu sesuatu yang harus ditebus dengan mahal. Barangsiapa yang ingin mengecap pendidikan, maka diharuskan menyediakan uang dalam jumlah tertentu un tuk dibayarkan ke sekolah, dengan beragam istilah yakni uang pendaftaran, uang bangku, uang iuran, uang sumbangan, dan lain-lain. Ada yang dibayar pada saat awal mengin-jakkan kaki memasuki sekolah, ada yang dibayar secara insentif dan ada yang dibayar secara berkala. Kesemua-nya dengan dalih untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan dimana yang bersangkutan menjadi peserta didik.

Pembanyaran yang ditarik dari peserta didik dianggap mempunyai legitimasi, karena telah disepakati orang tua siswa yang terhimpun dalam wadah BP3, yang pada teorinya BP3 dipercayakan mengelola iuran dimaksud untuk membantu pembiayaan pelaksanaan kegiatan sekolah. Namun dalam prakteknya tetap saja pihak sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah lebih domi pengurus/anggota BP3 dalam pemanfaatan uang penerimaan tersebut. Dan ironisnya pengalokasian pemanfaatan dana tersebut bukan diatur sesuai kebutuhan sekolah oleh pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan & Kebuda yaan.

Keterlibatan orang tua peserta didik untuk ikut membantu penanggulangan biaya pendidikan, pada

hakekatnya dapat saja diterima segai sesuatu bentuk partisipasi langsung membantu meringankan beban pemerintah, mengingat bahwa dengan pendidikan yang diperoleh anak, diharapkan akan menjadi bekal kehidupan anak dimasa depan yang lebih baik dan kelak dapat menjadi kebanggaaimya. Namun seharusnya kita tidak hanya sekedar menerima begitu saja anggapan bahwa

pendidikan adalah suatu yang mahal, tetapi mengapa sampai menjadi mahal juga harus diketahui dengan jelas terutama bagi orang tua peserta didik, sebab kini timbul anggapan bahwa biaya pendidikan sebenarnya dimahal-mahalkan karena penggunaannya melenceng dari hakekat maksud penghimpunan dana tersebut.

Pembayaran uang sekolah yang dikemas dengan istilah iuran atau sumbangan atau istilah lain yang lebih bagus didengar, adalah berasal dari orang tua anak didik, maka logikanya harus pula dimanfaatkan untuk hal-hal yang berkaitan langsung dengan kepentingan anak didik. Akan tetapi menjadi tidak logis karena aturan yang ditetapkan oleh BP3 justru pemanfaatannyajauh lebih banyak dipergunakan untuk kesejahtraan guru (60%-75%), yang tidak ada hubungan langsung dengan kepentingan anak didik. Mengapa dikatakan tidak logis? ]awabnya dapat disimak pada contoh kasus di SMU Negeri 1 Watansoppeng sebagai berikut:

# Golongan pangkat sebagi.in besar guru adalah Golongan IVa-Illd dengan penghasilan perbulan di atas satu juta rupiah hingga di atas satu juta lima ratus ribu rupiah.

Kesejahtraan guru yang diberikan dengan istilah insentif, adalah rata-rata sebesar tiga puluh rupiah per bulan tiap guru, jumlah mana sangat tidak logis untuk bisa menseiahterakan guru, apalagi dibandingkan dengan jumlah penghasilan resmi yang bersangkutan seperti tersebut di atas, sehingga terkesan mubazzir karena hanya sekedar bagibagi duit saja.

# Oknum guru memanfaatkan posisinya sebangai guru, mengusahakan penghasilan tambahan dengan menjual buku-buku, pakaian seragam /pakaian olah raga yang konon wajib dimiliki (diberi) oleh anak didik.

# Biaya lain yang jumlahnya cukup berarti bagi (sebagian besar) orang tua anak didik, adalah untuk pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan OSIS seperti pramuka, palang merah, cintaalam dan lain-lain.

# Kegiatan yang sudah memperoleh biaya dari pemerintah, tetapi ditambah lagi biayanya dari iuran

anak didik,dengan dalih dana dari pemerintah jumlahnya minim, misalnya jam mengajar wajib guru (diistilahkan jam tatap muka?), kelebihan jam mengajar guru, pelaksana ujian akhir dan lain-lain.

# Kegiatan yang pembiayaan dibebankan pada iuran anak didik yang hakekatnya tidak layak, seperti

perjalanan dinas kepala sekolah, sumbangan kepada pihak ketiga, pembanyaran iuran televisi, pembiayaan pelaksanaan peringatan hari-hari raya dan lain-lain.

Hal-hal yang disebut diatas itulah yang kami anggap. membuat biaya pendidikan akhirnya menjadi mahal-mahal, dan memang sangat mahal bagi sebagian besar orang tua anak didik yang terdiri dari berbagai profesi (pegawai negeri, pedangang/pengusaha kecil, petani, tukang ojek, kusir dokar, pekerja serabutan, dan lata-lata berpenghasilan dibawah satu juta rupiah perbulan. Padahal peruntukan pembanyaran uang sekolah yang mereka keluarkan, sebagian besar hanya dinikmati oleh guru yang notabene kehidupannya jauh lebih sejahtera dari mereka.

Dikaitkan dengan program pemerintah untuk mengentaskan kemiski nan, maka rasanya sulit untuk berhasil jika hal-hal seperti diuraikan di atas tetap dibiarkan berlaku. Di satu pihak pemerintah berupaya mengurangi kemiskinan dengan beraneka cara pada berbagai sektor, termasuk pada sektor pendidikan. Tetapi di lain pihak tanpa disadari terjadi pula gejala pemiskinan melalui sektor pendidikan dengan pembebanan berbagai biaya yang memberatkan orangtua anak didik, yang sebagian besar kemampuannya terbatas atau tepatnya belum sejahtra, sehingga bagi mereka yang dengan susah paya memeras keringat membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, lambat laun akan terseret masuk ke dalam lingkaran kemiskinan akibat beban biaya sekolah anak-anaknya yang harus diprioritaskan karena setiap tahunnya mengalami peningkatan yang kadang-kadang pantastis. Padahal kemiskinan merupakan suatu hal yangjustru ingin dikikis habis oleh pemerintah melalui program penentasan kemiskinan.

Anak yang tidak mampu orang tuanya, konon justru dibantu pembiayaan sekolahnya oleh pemerintah, dan tentunya pemerinta mengharapkan agar bantuan seperti itu tidak terus menerus diadakan seiring dengan harapan berkurangnya kemiskinan dengan upaya pengentasan kemiskinan. Maka seharusnyakita membantu upaya tersebut, baik dengan ide/gagasan atau upaya menghentikan hal-hal yang diduga berpotensi menetaskan kemiskinan.

Dampak bagi anak didik yang telah terjun ke masyarakat, terasakan sekarang dengan mengamati tindak tanduknya yang menggambarkan kondisi yang dilihat, dirasakan dan dialami semasa mereka di sekolah dulu. Sudah terbiasa dengan suasana mahal yang dimahal-mahalkan dan ikut pula larut dalam kondisi yang sedemikian itu, tanpa perna sempat berpikir bagaimana yang mahal dapat dimurahkan, walaupaun memurahkan yang mahal itu dapat saja dilakukan, tergantung kemauan biak semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan.

Kini muncul lagi sebuah prakarsa dari pemerintah yang mengubah wadah BP3 menjadi Komite Sekolah, di mana dalam pedoman pembentukannya menghendaki keterlibatan berbagai unsur yang dianggap layak membantu usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah, yakni tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, organisasi profesi tenaga pendidikan, usahawan, alumni dan wakil peserta didik. Sesuai sifat mandiri yang secara hirarkies tidak ada hubungan dengan lembaga pemerintah, serta tujuan, peran dan fungsi komite sekolah sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002, maka ada rasa optimis mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan memurahkan biayanya. Namun tentu semuanya tergantung komitmen dari masing-masing pengurus / anggota komite sekolah bersangkutan. Sebaik-baiknya aturan yang dibuat tetapi hasil yang diperoleh semuanya tergantung pada orang yang melaksanakannya. Sebab bagaimanpun juga nuansa BP3 masih nampak kental melekat di seputar pengelola sekolah, karena dari segi finansial memang menguntungkan mereka.

Sumber: Majalah DUNIA PENDIDIKAN No. 40, 15 Desember 2002  – 14 januari 2003


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: