Oleh: mdponline | Mei 18, 2011

Konsep Pendidikan Humanis Transenden Menuju Suatu Paradigma Sistem Pendidikan

Konsep Pendidikan Humanis Transenden

Menuju Suatu Paradigma Sistem Pendidikan


Oleh Irlidiya

(Kominitas SDN 8 Bontoa Kab. Maros)

THE key to a nation future is human reraurce (kunci masa depan suatu bangsa adalah sumberdaya manusia). SDM ini kemudian sangat diharapkan mampu mengakses perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini dunia pendidikanlah yang memegang peranan penting. Jika dunia pendidikan tumpul dalam merespon dan mengikuti perkembangan zaman, akan sangat mustahil menghasilkan SDM sesuai apa yang diharapkan. Masalahnya kemudian adalah bagaimana pendidikan tersebut dapat melahirkan manusia yang “berkualitas” dan standar apa yang digunakan untuk mengukur kualitas kemanusiaan seseorang serta konsep pendidikan yang mana dan bagaimana yang kita gunakan.

Menurut Fahri Ali (1985) pendidikan yang didasarkan atas tuntutan ilmu pengetahuan dan kebutuhan teknik adalah pendidikan yang mengutamakan ratio semata-mata. Pendidikan yang mempunyai dasar demikian akan menghasilkan orang cerdik pandai, mempunyai pikiran brilian tapi dalam pandangan jagadnya (world view) mempunyai pikiran salah. Kontjo Wijoyo mengatakan bahwa kita sekarang mengalami proses dehumanisasi, karena masyarakat industrial kita menjadikan

kita bagian dari masyarakat abstrak tanpa wajah kemanusiaan. Selanjutnya Yuyun Surya Sumantri (1992) juga mengatakan, ilmu membuat orang jadi pandai, teknologi memberi kemudahan, namun semuanya tak membawa bahagia, hanya sepi dan kengerian yang terbayang. Hal ini terjadi karena masing-masing pengetahuan terpisah satu dengan yang lainnya. Ilmu terpisah moral, moral terpisah dari seni, seni pun terpisah dari ilmu pengetahuan yang kita miliki sepotong-sepotong, tidak utuh.

Dari penuturan ketiga tokoh di atas dapat kita tarik sebuah benang merah, bahwa semua itu karena miskinnya wawasan spritual etik pada dimensi keiltnuan yang dikembangkan oleh manusia, dengan

berpikir pada pengembangan kognisi manusia, pengembangan spritual menjadi sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan.

Adanya kesan bahwa pendidikan banyak diberatkan pada mengejar dan kurang kesaksian tentang nilai-nilai hidup, latar belakangnya mungkin karena orang meletakkan pengetahuan sebagai nilai terpenting ke arah kemajuan. Pendidikan dianggap beres kalau dan asal anak sudah hafal apa yang diajarkan. Gejala ini menimbulkan anggapan seolah-olah apabila orang sudah tahu dan dari itu, lalu

dengan sedirinya ia menjadi manusia dewasa dan lebih baik. Dengan demikian diberi kesan keliru seakan nilai manusia diletakkan pada banyak tahu atau kurang tahunya dam ukuran baik-buruknya orang dinilai pandai-bodohnya (Mardi Atmaja, BS. SJ, dalam Dick Hartoko (ed) Memanusiakan Manusia Muda 1984 hal. 45).

Mencermati permasalahan di atas dalam hubungannya dengan penyiapan dengan SDM maka yang harus diperhatikan adalah seperti apa dasar epistimologi suatu ilmu tersebut dikembangkan. Karena disadari atau tidak selama ini kita telah berkiprah pada konsep pendidikan barat dengan kadar rasionalisme dan empirisme yang tinggi, di mana peserta didik tidak diperkenalkan secara intens cara memaknai hidup, hingga akhirnya teramat banyak orang yang pintar dalam menyerap ilmu kemudian yang didapat hanyalah kegersangan, keterasingan dengan dirinya sendiri.

Olehnya itu diperlukan perubahan dengan paradigma yang lebih accetable dalam konteks kemanusiaan dengan kata lain diperlukan konsep pendidikan yang lebih humanistik yang memandang mayang dimilikinya.

Pendidikan Berwawasan Kemanusiaan

Idealnya, pendidikan harus dapat mengantarkan manusia mengenali eksistensi dirinya. Dapat mengembangkan dan membina seluruh potensinya yang kemudian dapat mengantarkan manusia pada suatu pencapaian tingkat kebudayaan yang memegang tinggi ‘harkat dan martabat kemanusiaan. Kenyataan sejarah membuktikan bahwa pasang-surutnya suatu kebudayaan dan peradaban manusia ditentukan oleh seberapa kuat komitmen dalam menjunjung nilai serta fitrah kemanusiaan. Jadi dalam hal ini pendidikan berwawasan kemanusiaan dimaksudkan bahwa pendidikan yang memiliki visi kemanusiaan yang memandang manusia sebagai subyek pendidikan bukan obyek perobyek. Manusia sebagai subyek pendidikan harus dipandang secara utuh yang memiliki potensijasmani, rohani dan akal. Pendidikan yang diheratkan semata pada pembinaan dimensijasmani dan akal dengan kata lain mengisi ranah psikomotorik dan kognitif dengan mengesampingkan aspek pembinaan rohani, maka disinilah awal suatu proses kelumpuhan eksistensi manusia. Peserta didik tidak bisa diajari dengan ilmu agama di satu sisi dari ilmu “sekuler” di sisi lain yang secara konsepsional terpisah. Peserta didik yang haus dengan kesatuan ilmu dan nilai tidak bisa dilepaskan dahaganya dengan ajaran ilmu atau sains dan ajaran agama secara terpisah. Oleh karena itu sistem budaya yang dihasilkan dari proses pendidikan semacam itu tak dapat mengantar manusia untuk bisa memahami nilai kemanusiaannya. Inilah kegagalan yang dialami oleh penyusunan konsep dan kurikulum pendidikan yang mengekor pada tuntutan perkembangan sains kontenporer.

Tapi kemudian pendidikan berwawasan kemanusiaan yang dimaksud tidak menjadikan manusia sebagai pusat sumber ikatan-ikatan nilai secara mutlak, seperti antroposentrisme barat yang memandang manusia sebagai pusat segalanya, yang aksesnya membawa malapetaka kemanusiaan, melainkan harus berdasar pada humanisme yang ditegakkan atas dasar moralitas yang transendental.

Pendidikan dan Nilai Transenden

 

Selain sebagai sebuah pribadi yang terpenting adalah sebagai hamba Tuhan yang terikat oleh hukum normatif. Pada kenyataannya dunia ilmiah modern hanya mampu menjelaskan fenomena alam dan tidak mampu menjelaskan mengapa hukum nomologis itu ada dan berlaku pada dunia materi disebabkan karena wawasan yang dikembangkan tidak sampai pada level hukum normatif, yang seharusnya berfungsi sebagai asas dalam menentukan segala tujuan dan aktivitas keilmuan. Sementara tak dapat dipungkiri bahwa manusia sebagai makhluk materil juga makhluk spiritual, yang secara fitri memiliki naluri keagamaan. Untuk menjembatani hal tersebut maka peranan pendidikan harus menempatkan ilmu Naqliyah sebagai pokok pembinaan mental, intelektual, moral dan etos kerja manusia. Dengan demikian pendidikan harus diarahkan pada kekuatan hati (Qalbu), menyusul kemudian pembinaan ranah kognitif dan psikomotorik (skill). Inilah yang mendasari seluruh gerak dan kerja intelektual yang harus terderivasi dalam bentuk kurikulum dan tidak sekadar mencampurnya dengan ilmu Aqliyah tapi harus merupakan sintesa yang mengintegrasikannya menjadi suatu kesatuan paradigma pendidikan. Dengan demikian proses pendidikan akan mengantar seseorang menjadi manusia yeng tercerahkan, manusia yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual, Manusia yang dapat membangun sebuah peradaban, dan yang terpenting

dari semua itu yakni dapat mengantar manusia menemukan kebahagian sejati.

Konsep seperti inilah sebagai jalan keluar dalam upaya memanusiakan manusia dengan menekankan harmonisasi hubungan baik dengan sesama maupun dengan lingkungan alam yang ditopang oleh nilai-nilai normatif Ilahi.

Sumber : Majalah DUNIA PENDIDIKAN No. 40, 15 Desember 2002 – 14 Januari 2003, halaman 37.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: