Oleh: mdponline | Mei 18, 2011

Puisi dan Bahasanya

Puisi dan Bahasanya

Oleh Tri Astoto Kodarie

Pada hakekatnya bahwa sastra adalah dunia dalam kata. Begitulah Frank C. Maatje. Dengan begitu pengertian yang dikemukakan oleh Maatje itu tak hanya mencakup sastra tulis saja, akan tetapijuga mencakup sastra lisan. Sebab kedua genre sastra ini juga menggunakan kata sebagai mediumnya.

Kalau sastra merupakan “dunia dalam kata”, maka pencipta karya sastra (pengarang, penyair) tentulah selalu berurusan dengan bahasa. Khususnya dalam puisi, ada seorang penyair I_nggris, Samuel Taylor Coleridge pernah berkata bahwa “puisi sama dengan kata-kata terbaik dalam tata tertib (aturan) yang terbaik”.

Dari kata-kata penyair Inggris tersebut bila kita renungkan secara mendalam, betapa beratnya orang yang berkeinginan untuk menjadi penyair. Dia tak hanya bergelut seru dengan kata-kata, tetapi diajuga harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku dalam bahasanya. Iika penyair Chairil Anwar menulis baris puisi : ”ini kali tak ada orang yang mencari cinta”. Bukanlah bahwa berarti penyair ini tak tahu bahwa struktur “ini kali” tersebut menyalahi struktur bahasa Melayu/Indonesia. Dia sadar melakukannya. Dia mempermainan struktur bahasanya untuk mencari efek estetis. Hal inilah yang dinamakan ”licentia poetica”.

Apa yang disebut licentia poetica itu bukanlah berarti bebas sebebas-bebasnya dalam penggunaan bahasa sehingga karya sastranya tak dapat dinikmati lagi oleh pembacanya. Kebebasan di sini harus ditafsirkan sebagai kebebasan yang terikat. Jelaslah, seorang penyair masih diijinkan oleh masyarakat pemakai bahasanya untuk bebas selama permainan dan penyimpangan yang dilakukan masih dalam rangka pencarian efek estetis. Dengan begitu penyair dituntut untuk mengetahui secara mendalam akan watak atau ciri bahasa yang digunakannya.

Cobalah sekarang kita simak puisi karya penyair dari pulau Madura, D. Zawawi Imron, di bawah ini :

MEDITASI CELURIT

Memang pahit, gurul rasa buah pohonan

itu

buah benih-benih yang dulu kutubur sambil

berlayar

pada ubur:-ubun gelombang

lewat isyarat senja

yang bermain pada telugu

kubur hanya tempat

bukan kiblat

gurul

gigi eelurit harus kupanjnt

agar kucieipi puncak paliitmu.

 

1984

Puisi diatas walaupun ditulis dengan huruf kecil (kecuali judulnya): adanya tanda baca, yaitu tanda koma dan tanda seru, hal ini menunjukkan bahwa penyairnya masih mematuhi ejaan bahasa Indonesia. Adanya tanda baca itu menyebabkan jalan pikiran sang penyair dapat diikuti dengan jelas dan transparan. Lalu bagaimana halnya dengan sebuah contoh kutipan di bawah ini :

Siapa

inelihat siapa

ditinda yang ada

siapa

itu di mana ?

 

Baris-baris puisi ini sulit kita tangkap maksudnya. Hal ini disebabkan oleh kekacauan berpikir dalam menggunakan bahasa. Dengan begitu peristiwa ini tidak selaras dengan pendapat yang mengatakan bahwa: “bahasa puisi haruslah jelas, kuat, jitu dan menarik”. Kekacauan berfikir dalam menggunakan bahasa terdapat pula dalam contoh ini :

Aku diam, bukan untuk mati

aku diam untuk bernafas lagi

jangan terusikan aku

jangan terjerumuskan aku

Apa yang dimaksud perkataan terusikan dan terjerumuskan dalam kutipan puisi di atas yang saya ambil dari puisi-puisi kegiatan kokurikuler siswa kelas III SLTP Negeri 10 Parepare itu ? Dalam hubungan adat kebiasaan berbahasa Indonesia seharusnya biasa dikatakan : ”jangan usik aku” dan ”janganjerumuskan aku”. Di sini kita bisa melihat bahwa puisi-puisi karya siswa SLTP kelas III, nampak belum memahami benar seluk-beluk morfologi bahasa Indonesia. Selain itu dalam hubungannya dengan diksi, pemakaian kata-ka ta bahasa asing dan bahasa daerah (kalau pun ada), banyak yang tidak selektif dan tidak melakukan pemikiran kembali terhadap kata-kata yang digunakan. Hal ini menyebabkan hilangwya nilai estetis dalam puisi tersebut. Kemudian juga kita harus menyadari bahwa tidak mungkin membandingkan antara puisi siswa-siswi SLTP dengan puisi-puisi para penyair yang sudah mapan. Tetapi hal ini juga hanya merupakan contoh ini juga hanya merupakan contoh pembanding yang sederhana saja.

Dengan adanya pencampuran pemakaian bahasa dalam sebuah puisi akan memberi kesan pula pada para pembacanya, bahwa sang penyair tidak dapat membedakan antara bahasa sebuah puisi dan bahasa prosa. Dalam puisi, seorang penyair haruslah banyak melakukan apa yang dinamakan ”living in” dan “living out”. Kata-kata yang tidak perlu dan tidak memiliki fungsi haruslah dibuang (living out), sehingga benar-benar tinggal kata-kata yang diperlukan untuk melahirkan sebuah puisi (living in).

Pada hakekatnya seorang penyair sebelum merumuskan pikirannya dalam unitunit sebuah puisi (baris dan bait), pikiran tersebut terlebih dahulu telah dirumuskan dalam unit pengucapan non puisi (d alam pikiran). Begitulah menurut umar ]unus dalam bukunya “Dasar-dasar Interprestasi Sajak” (198l:14).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemakaian bahasa dalam puisi tak lain dan tak bukan adalah perumusan kembali sesuatu yang telah dirumuskan dalam bentuk kalimat atau paragraf (alinea). Hal ini dapat dilihat dalam perbandingan berikut:

A. Unit pengucapan bahasa non puisi:

1. (1) Pohonan lurus kaku/ (2) Pohunan tak bergerak/ (3) Puncak pohonan tak bergerak/ (4) Sepi memagut sampai ke puncak.

2. (1) Kami baru berkenalan/ (2) Kami hanya berpandangan / (3) Samudera jiwa sudah selam berselam.

 

B. Unit pengucapan bahasa puisi :

 

1. Lurus kaku polionan. Tak bergerak / sampai ke puncak. Sapi memagut. (“Hampa”, Chairil Anwar).

2. Baru berkenalan. Cuma berpandangan /Sungguh pun samudera jiwa sudah selam berselam. (“Lagu Biasa”, Chairil Anwar).

 

Dari keseluruhan uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa Lmt-uk menjadi “penyair yang benar-benar penyair” si calon dituntut menguasai, memahami, menyayangi, menekuni, dan mematuhi seluk beluk bahasanya. De  ngan demikian ia akan . lebih mudah memper    mainkan dan menyimpangkan bahasanya untuk keperluan estetika. Di samping itu, dengan sadar pula ia dapat menumbuhkan dan mengembangkan bahasanya ke arah bahasa yang baik dan benar.Bila sudah demikian, maka apa yang dinamakan licentia poetica yang diberikan kepada para penyair itu tidak disalahartikan dan disalahgunakan untuk menutupi kekurangan puisinya.

Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita renung-renungkan apa yang dikatakan oleh J. Elema, yaitu : (1) Puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya, dapat dijelmakan ke dalam kita. Tambahan lagi, nilai seni itu bertambah tinggi, bila pengalaman itu makin lengkap. (2) Pengalaman jiwa itu makin tinggi nilainya, bila pengalaman itu makin banyak meliputi keutuhan jiwa. (3) Pengalaman jiwa itu makin tinggi nilainya, bila pengalaman itu makin kuat. (4) Pengalaman itu makin tinggi nilainya, bila isi pengalaman itu makin banyak (makin luas dan makin jelas rinciannya).

Dengan demikian bahasa puisi adalah bahasa yang muncul darijiwa yang kuat dan dalam. Oleh sebab itu bahasa puisi adalah bahasa yang menarik untuk dinikmati dengan sepenuh jiwa oleh penikmatnya. Dan kalau mungkin, berenang-renanglah dengan sepenuh jiwa di samudera puisi, agar kita dapat menangkap makna dari puisi itu dengan hakiki.

Sumber:  Majalah DUNIA PENDIDIKAN No. 40, 15 Desember – 14 Januari 2003; halaman 48-49


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: